"AKU SAYANG DIA"
Sedikit prakata : Ini gak bisa dibilang cerbung, karena emang ceritanya gak bersambung. Mungkin masih bisa dibilang cerpen dengan banyak sekuel kali yak?? XD Ah, aku gak tau harus menyebut cerita ini sebagai apa.. Yang pasti cerita ini berisi halaman-halaman diary sang tokoh utama.. Satu kali post, satu halaman, jadi kita lihat sampai kapan cerita ini akan berjalan.. Ok, happy reading.. Hope u like it :)
* * *
* * *
Aku membuka halaman pertama dari buku diary berwarna biru langit yang ada di tanganku ini. Lalu mengambil pulpen hitam dari tempat pensilku, kemudian tanganku mulai menari-nari di atas kertas biru itu, mengisi halaman pertama buku diary itu.
Dear Diary,
Ini halaman pertama dari diary ini. Kenapa? Karena diary ini bakal diisi dengan semua kisah aku dengannya. Menurutku sih dia itu cowok paling unik yang pernah aku temui. Dia ngasih diary ini ke aku setelah aku menerima dia sebagai kekasihku. Yap, tadi sore aku baru aja menerima dia. Dan saat dia ngantar aku balik ke rumah, dia ngasih diary ini ke aku, untuk aku tulisi semua kenangan tentang aku dan dia. Dasar aneh, tapi AKU SAYANG DIA!!! >.<
Aku menutup diaryku dengan senyum yang tidak lepas dari wajahku. Ah, dia memang membuatku jatuh cinta kepadanya. Sikap dia yang unik itu membuat dia berbeda dengan cowok-cowok lain yang seringnya memberikan hadiah seperti bunga, coklat, atau boneka kepada calon ceweknya saat menyatakan perasaan mereka. Tapi dia justru memberiku diary ini. Diary dengan warna favoritku.
Ingatanku kembali melayang pada kejadian sore tadi. Kejadian yang memulai cerita ini.
= = | | = = | | = =
“Apaan sih, Zy? Main narik-narik aja, sakit tau” protesku pada Ozy yang saat keluar dari kelas tadi langsung menarik tanganku menjauhi yang lain. Sadar gak sih dia kalau hari sudah semakin sore?
Ozy menoleh ke arahku lalu melempar senyuman kecil kepadaku. “Sorry” sahutnya pendek. Dia langsung merubah genggamannya dari pergelangan tanganku menjadi menggenggam jemariku hangat, membuatku terdiam begitu saja.
Mungkin karena melihat aku yang tidak memprotes tindakannya lagi, dia langsung kembali berjalan santai ke arah tujuannya -yang tidak aku ketahui- dengan tangan kanannya yang menggenggan tanganku sedangkan tangan lainnya terselip di saku celana abu-abunya.
“Zy, ini udah sore banget. Kita mau kemana sih?” tanyaku heran.
“Sebentar aja, Cha. Janji deh, aku yang antar kamu sampai ke rumah” katanya tanpa menoleh ke arahku.
Aku hanya bisa menghela nafas pasrah mendengar ucapannya itu, dan kembali mengikuti kemana pun dia membawaku saat ini. Toh, dia sudah berjanji akan mengantarku kan? Jadi aku tidak perlu takut tidak mendapatkan bus untuk pulang.
Tidak lama, aku tau kemana dia akan membawaku. Ke ruang musik! Ruangan favoritnya! Tapi, apa yang akan dia lakukan?
Dia membuka pintu ruang musik, dan membawa aku masuk ke sana. Aku sukses di buat terpaku saat melihat suasana ruang musik yang berubah menjadi lebih romantis. Ada banyak bunga mawar putih -bunga favoritku- di sana, tersusun rapi membentuk gambar hari. Di tengah-tengah hati itu ada dua buah kursi yang berhadapan, dan dia membawaku untuk duduk di sana.
Dia mengambil gitar dan duduk di hadapanku. Detik selanjutnya dia sudah memetik senar gitar itu membentuk sebuah alunan nada, suaranya pun ikut menyanyikan lagu yang dimainkannya itu. Dan semua ini membuatku TERPESONA!!
“Melihat tawamu mendengar senandungmu
Terlihat jelas dimataku warna-warna indahmu
Menatap langkahmu meratapi kisah hidupmu
Terlukis jelas bahwa hatimu
Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Sifat nan selalu redakan ambisiku
Tepikan khilafku dari bunga yang layu
Saat kau disisiku kembali dunia ceria
Tegaskan bahwa kamu
Anugrah terindah yang pernah kumiliki
Belai lembut jarimu sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Belai lembut jarimu sejuk tatap wajahmu
Hangat peluk janjimu
Anugrah terindah yang pernah kumiliki”
Dia mengakhiri ‘konser’ singkatnya itu, lalu meletakkan gitarnya di bawah. Tangannya kemudian mengambil tanganku dan menggenggamnya hangat. Ah, kenapa jantungku mendadak berdebar lebih kencang begini sih?
“Cha, mungkin aku gak bisa seromantis cowok lain. Mungkin aku gak sekeren Cakka, gak sepintar Rio, ataupun gak sedewasa Gabriel. Tapi inilah aku, Cha, hanya seorang Ozy yang jail, narsis, bandel, dan kekanak-kanakan. Dari dulu aku udah nyimpan perasaan ini untuk kamu, Cha, aku ragu untuk mengungkapkannya karena semua kekurangan aku. Tapi semenjak kita dekat, aku sadar kalau kamu juga gak seperti cewek lain yang hanya melihat orang dari kelebihannya, tapi juga dapat menerima kekurangannya”. Dia menarik nafas panjang kemudian menghembuskan perlahan. Dia menatapku lagi, tepat pada kedua mataku. “Jadi, maukah kamu menerima aku sebagai kekasihku dengan segala kekurangan yang aku miliki?” tanyanya langsung.
Aku sempat terdiam beberapa saat. Aku memang tau kalau dia itu jail, narsis, bandel, kekanak-kanakan, dan sering mengangguku. Tapi, semua itu sering membuatku merindukannya. Apakah aku harus menerimanya?
“Cha” panggilannya membuatku tersadar.
Aku menghela nafas pelan, meyakinkan diriku bahwa keputusanku ini tepat. “Aku tau kok kamu itu jail, narsis, kekanak-kanakan, bandel, dan sering banget gangguin aku. Tapi, yang perlu kamu tau, semua itu justru sering bikin aku kangen sama kamu. Sepertinya hari aku bakal gak lengkap kalau gak diisi dengan semua tingkah kamu itu. Jadi, aku mau menerima kamu sebagai kekasihku” tuturku panjang lebar. Senyuman tulus dari hati ku berikan untuknya.
Senyuman lebar langsung terukir di wajahnya. Dia kemudian mengacak-acak rambutku lembut. “Makasih udah mau nerima aku ya, Cha” tuturnya tulus.
Aku mengangguk kecil. “Zy, sebentar ya” kataku sambil meloncat turun dari kursi tinggi yang sejak tadi aku duduki. Aku melangkah ke arah piano putih dan duduk di hadapan piano itu. Detik selanjutnya jari-jariku sudah menari lincah di atas barisan hitam putih di hadapanku ini, membentuk sebuah alunan nada. Aku ingin membalas nyanyiannya tadi.
“Denganmu sepiku kan berganti
Berganti keindahan yang belum pernah kurasa
Gemuruh gelora di jiwaku
Taklukan keraguan dan ketakutan hatiku
Selamat datang cinta di hatiku
Ku sambut hadirmu
Berikan aku cinta rahasia kehidupan
Tanpa engkau cinta aku buta
Kau cahaya hati
Cinta tak pernah salah dalam memilih”
Dia berjalan mendekatiku, saat aku sudah mengakhiri nyanyianku. “Makasih buat lagunya” katanya dengan senyum khas yang terukir di wajahnya. Dia mengulurkan tangannya ke arahku, “Yuk pulang. Udah sore banget nih” ajaknya.
Aku hanya mengangguk sambil menyambut uluran tangannya. Aku dapat merasakan dia menggenggam tanganku erat, seakan tidak ingin melepaskannya lagi. Dia membawaku keluar dari ruang musik, dan melangkah riang keluar dari sekolah.
^ ^ ^
Dia menghentikan motornya tepat di depan rumahku. Aku turun dari boncengannya, kemudian kembali berbalik menatapnya. “Makasih ya Zy” kataku singkat.
Dia tersenyum manis, kemudian menarik sebuah buku dari dalam ranselnya. Dia menyodorkan buku itu ke arahku, yang langsung aku terima sambil menatapnya heran. “Ini buku diary buat kamu. Kamu tau kenapa aku ngasih diary ini ke kamu?” tanyanya.
Aku menggeleng kecil. Jelas saja aku tidak tau. Sepertinya baru dia yang ngasih hadiah ke ceweknya sebuah buku diary, bukan bunga atau sejenis itulah.
“Karena aku tau kamu suka nulis. Jadi aku harap kamu mau mengisi buku diary itu dengan suka duka saat bersamaku. Aku mau kamu ceritain semua kenangan kita di diary itu, mau itu kenangan manis ataupun pahit. Diary itu bakal jadi saksi bisu perjalanan cinta kita, sayang” tuturnya panjang lebar sambil menatapku lembut.
Aku mengangguk mengerti. “Aku janji bakal isi diary ini sesuai seperti yang kamu minta” janjiku.
Dia mengacak-acak rambutku pelan, senyum khasnya tetap terukir di wajahnya itu. “Ya udah aku pulang ya. Kamu langsung istirahat ya. I love you, Acha” katanya lembut, kemudian mengecup keningku lembut.
“I love you too, Ozy” balasku pelan.
Dia kembali tersenyum ke arahku sebelum melajukan motornya kembali. Aku terus menatapnya hingga dia menghilang dari pandanganku.
Aku memeluk diaryku erat. Hari ini adalah hari yang indah. Dan semua itu karena hadirnya dia. Aku sangat bahagia bisa mendapatkannya!! >.<
Apa yang akan terjadi ke depannya ya??
* * *
Ok, untuk bagian ini selesai..
Ada yang ingin memberikan komentarnya?? XD
Tunggu halaman-halaman diary selanjutnya yaa..
Ok, untuk bagian ini selesai..
Ada yang ingin memberikan komentarnya?? XD
Tunggu halaman-halaman diary selanjutnya yaa..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Berkomentar yang sopan dan baik